Home » Every Action Has A Reaction

Every Action Has A Reaction

Lagi pengen serius dikit nih. Tulisan ini terinspirasi oleh salah satu tweet dari akun twitter @islamicthinking.

You’re not responsible for what people think about you. But you’re responsible for what you give them to think about you.

And i couldn’t agree more. 🙂

Cukup sering ya gue dengar temen gue bilang, “hidup lo enak yah, rik, gak pernah ada masalah”. Ya alhamdulillah kalau benar ya, tapi percayalah, i’ve been through pretty much drama and ordeals. Kita enggak usah bahas masa lalu yang sudah bertahun-tahun lewat deh ya, contoh paling gres itu tahun 2011. Tahun lalu merupakan tahun yang cukup berat buat gue. A series of unfortunate events did happen. It was definitely not my kind of good year.

Nah pas liburan ke KL, ketemu dong sama teman-teman dekat gue pas tinggal di sana. Ngobrol ngalor ngidul dari yang enteng sampai yang berat. Namanya pun ibu-ibu ya, biasalah curhat urusan domestik. Yang si A curhat begini, terus si B juga cerita tentang kekusutannya sendiri. Sampai akhirnya, gue “kena” lagi. Salah satu dari mereka bilang, “lo tuh kayaknya teman gue yang paling enggak ada masalah yah rik. Selalu kelihatan bahagia dan gak pernah ribet”. Jrengggg…jrenggg…!! Padahal saat itu, gue baruuu aja melalui salah satu persoalan yang cukup (sangat) mengguncang kadar kewarasan gue. Akhirnya ya gue cerita sedikit tentang persoalan yang gue hadapi. Garis besarnya aja sih, karena buat gue, sangat haram hukumnya membeberkan aib (keluarga) ke orang luar. Dan mereka cukup kaget dengernya. Lebih kaget lagi karena bagi mereka, gue sama sekali enggak kelihatan kalau lagi ada masalah (ya menurut mereka sih ya).

Satu orang yang tau bener gejolak (bahasa lo, rik!) hati gue, ya cuma suami gue. Itupun gue rasa dia enggak bisa nebak seberapa galaunya gue ketika menghadapi masalah-masalah tersebut. Biasanya kalau abis denger berita enggak enak, gue enggak langsung cerita sih ke dia. Gue pikirin dulu sendiri beberapa saat, pas tenang dan bisa jaga emosi, baru gue cerita. Dan gue jarangggg banget nangis di depan dia (nangis beneran ya, bukan yang karena nonton oprah gitu). Seringnya, tau-tau kepergok mata gue udah sembab aja. Hihihihi. Pada dasarnya, gue enggak suka menghiba-hiba simpati atau rasa kasihan dari orang. Dan gue enggak mau memberatkan hati suami gue dengan nangis terkaing kaing di depan dia.

Life is never meant to be easy. 

Orang yang tampak bahagia dan sempurna-pun, PASTI juga mengalami ups and downs dalam hidupnya. Setiap orang itu kan yah udah dapat kadar “rejeki”nya masing-masing.

Gue udah kenyang banget sama yang namanya drama kehidupan sedari gue masih kecil. Gue rasa, hari-hari bak neraka dulu itu lah yang berperan besar dalam membentuk diri gue saat ini. Pasti ada yang mau bilang, “kok neraka sih, lebay amat lo, rik!”. 🙂 Oh yes dear, it really was. I have known how cruel life could become since my first decade in this world. I’ve learnt how to control my emotion, to forgive, to be grateful on a simple thing, since i was very young.

Negatif dari semua pembelajaran itu, gue sekarang jadi suka gemes banget kalau ngelihat orang yang cengeng dan drama untuk masalah yang capek atau sakit hatinya bisa hilang dalam hitungan hari, minggu, bulan. Gue tidak meng-klaim diri gue adalah salah satu manusia termalang, oh enggak sama sekali! Alhamdulillah enggak dan gak mau juga deh ih! Pernah sih ada satu masa gue merasa kehidupan gue dulu bak sinetron, tapi kalau gue buka mata lebar-lebar, buka hati lebih luas, doh! neraka gue dulu itu gak ada artinya banget dibanding deritanya ratusan juta manusia seantero jagat raya ini. At least gue dulu masih bisa sekolah di sekolah bagus, dibeliin ini itu, makan enak, dan bersosialisasi dengan normal karena gak ada satu pun teman gue yang tau masalah gue.

How do we react to something.

Pendapat dan pembelaan diri enggak akan pernah tersampaikan dengan baik ketika emosi. Percayalah. Gue melihat bagaimana orang terdekat gue (hampir) selalu menyampaikan sesuatu dengan penuh emosi. Emosi apapun. Kalau bahagia yah lebay banget-bangetan hebohnya, kalau sedih dramanya bak Tuhan itu kejaaaam banget, dan kalau marah udah kayak gunung meletus. Gue yang ada di sekitarnya, udah pasti kena dampaknya. Ikutan capek enggak sih bok ngelihat yang kayak begitu? Karena itu, semakin kesini gue semakin berusaha untuk bisa jaga emosi. Enggak enak di gue dan enggak akan enak juga buat orang-orang di sekeliling gue.

Apalagi jaman sekarang dimana semua orang tampak menikmati untuk “berbicara sendiri” di twitter, Facebook, atau path, yang mana terkadang malah jadi bumerang. Berapa banyak sih diantara kita yang suka menyalurkan emosi lewat twitter? Lewat blog? Gue sering. Be honest, it’s damn hard to avoid that temptation to overly share our life in social media. Iya gak sih? Tetapi sebisa mungkin gue tidak membeberkan masalah pribadi gue di sosial media. Bukan pencitraan supaya orang mengira i am living in a perfect world. Tapi seperti yang gue bilang, gue enggak suka menghiba-hiba simpati dan enggak mau mengotori atmosfer orang-orang sekitar gue.

Gue salut sama beberapa orang yang walaupun mengalami permasalahan hidup yang berat, tapi masih bisa kelihatan cool dan berpikir positif. Enggak banyak cincong, enggak pake curhat akbar di sosial media. Gue bangga loh bisa berpapasan garis hidup dan berteman dengan mereka. 🙂

One said, it’s not stress that killing us, it’s our reaction to it.

You’re not responsible for what people think about you. But you’re responsible for what you give them to think about you.

We use twitter, Facebook, path, instagram, to share part of our life to people. Buat gue, doing the typing-the snapping photo-the pressing send button activities needs effort and time. Jadi gue melakukan itu semua seringnya memang with purposes. Pamer? Mancing reaksi orang? Nyindir? Mau orang lain lihat dan kasih komentar? Iya! Dan gue sadar sesadar-sadarnya, what i’ve done would create some perceptions about me. Like it or not, i should take it. Apakah orang lain judgemental terhadap gue? Mungkin. Tapi apa mereka salah for being judgemental? Kalau gue bilang mereka salah karena ngomongin gue, judgemental juga dong gue ? Nah loh :)!

We cannot control people’s reaction. Dan terima atau tidak, reaksi orang lain adalah manifestasi dari tindakan yang kita lakukan. Just like newton said on his third law, to every action there is always an equal and opposite reaction.

Be Sociable, Share!

7 Responses to “Every Action Has A Reaction”

  1. Mandey says:

    Ah, Rika … baru baca dan sangat setuju dengan paragraf terakhir. Gue suka bingung dengan orang yang heboh banget menanggapi reaksi orang lain terhadap aksinya. Memang aksi itu dilakukan di wilayah pribadi (yang suka terlupa adalah wilayah tersebut adalah bagian dari wilayah publik) tapi kita memang harus siap dengan semua risiko yang mungkin timbul. Komen yang kita dapat tidak selamanya positif. Nggak semua orang punya hati dan jiwa yang besar untuk menerima ini.

    • ambung ambung says:

      Eh Mandeee…makasih loh udah mampir 🙂
      Ya kadang reaksi kita atas reaksi orang lain (terhadap aksi kita) **bingung gak?** malah suka memperkeruh keadaan ya. Sigh.

  2. sefa firdaus says:

    hai salam kenal – tulisan yg bagus, mengingatkan! thank you

  3. riska says:

    tulisannya bagus bangettt! i love the part “We use twitter, Facebook, path, instagram, to share part of our life to people. Buat gue, doing the typing-the snapping photo-the pressing send button activities needs effort and time. Jadi gue melakukan itu semua seringnya memang with purposes.” hal ini yg kadang suka ‘terlewatkan’ saat mau sharing di socmed, yaitu berpikir “do i really need to share this? what do i want to achieve by sharing it?”
    thanks for your cup of thought! (sekalian salam kenal, hehe)

  4. Meta says:

    Lovin this post Rik! Everybody loves drama, cuma sampe sejauh mana mau bikin drama dengan diri sendiri jadi pemeran utama?

    ps. sama, gw juga selalu kagum dan mengidolakan orang yang bisa selalu tenang di depan publik walau didera masalah yang mungkin jauh lebih drama dari yang suka diributin orang di socmed 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *