Home » Friends

Friends

Dulu waktu gue SMA, gue inget banget, ada seseorang yang bilang gini sama gue,”Mumpung SMA cari teman yang banyak deh. Nanti kalau udah kuliah apalagi kerja dan menikah, makin susah loh cari teman baik”. Oh well, itu enggak berlaku sih buat gue. Justru yang terjadi sama gue adalah, makin ke sini, makin banyak teman gue. Memang banyak teman enggak menjamin kita banyak sahabat, tapi … gimana banyak sahabat kalau temannya aja enggak banyak pilihan. Mbulet enggak kalimat gue? 🙂

Teman Sekolah

Gue dulu punya gank pas SMA kelas 2, ber-empat cewek-cewek. Kita dekat gitu sampai awal-awal kuliah. Tapi karena kuliahnya pada mencar, mana jaman dulu kan handphone juga belum umum, sosial media enggak ada, jadi yah makin lama kita makin jauh. Sekarang pun walaupun kita terkoneksi di FB, tapi jarang banget colek-colekan. Ya mungkin karena udah kadung enggak dekat selama bertahun-tahun ya. Gue juga ada 3 teman baik pas SMP. Ini tingkatan kedekatannya (dulu) jauh dibanding yang SMA. Jauh lebih dekat maksudnya. Gank kita namanya spitbut alias sipit beautiful 🙂 **oh well, teens!**. Yang ada turunan cina sih cuma gue, sisanya palembang dan sunda. Ketemuan sih udah jarang banget, malah gue lupa deh kapan terakhir kita ngumpul bareng. Mungkin pas nikahan gue ya :). Tapi 2 diantara 3 orang ini sekarang ada di timeline twitter gue. Jadi walaupun mungkin kita tidak sedekat dulu lagi, kadang, every now and then yah suka juga sahut-sahutan di twitter.

Teman Kuliah

Teman-teman jaman kuliah mungkin bisa dibilang teman-teman yang sampai sekarang masih lumayan dekat. Kita berteman dekat 6 orang, cewek-cewek. Walaupun sekarang ini enggak semuanya masih dekat, tapi kita saling tahu kabar masing-masing. Jaman kuliah dulu, kita kemana-kemana hampir selalu bareng. Pokoknya dekat banget! Tapi yang namanya orang yah, kadang kita sulit membagi perasaan secara equal ke setiap teman.

Yang paling dekat dengan gue, Ms.P. Dia ini kayak mediator diantara kami. Cantik, pinter dan paling banyak dikecengin sama cowok-cowok di kampus. Bisa dibilang, diantara 5 yang lain, Ms. P ini yang paling banyak tahu tentang gue. Terus ada Ms.Y yang lucu, selalu ceria, dan selalu jadi penghibur buat kita-kita. Ms.Y ini mungkin salah satu manusia paling polos dan baik hati yang pernah gue temukan. Dia ini yang waktu putus sama pacar jaman kuliahnya, membuat kita ber-enam nangis bareng! Hahahaha ikutan berasa diputusin, soalnya kita juga lumayan dekat sama si pacar. Lalu ada Ms.R (bukan Rika tentunya), dia ini … ehmm paling dewasa diantara kita s!at itu, padahal umurnya justru paling muda :). Cantik (dan awet cantiknya sampai sekarang!), pinter, terus dulu pacarannya sama asdos hahahaha. Lalu ada duo Ms.Sa & Ms.Sy. Si Ms.Sy teman yang kalau lagi punya pacar, bisa dipastikan sering menghilang dari peredaran. Karena pacarnya selalu anak luar kampus. Baik hati tapi agak menye-menye orangnya. Ms.Sa, dewasa dan pembawaannya cool. Paling jago dandan diantara kita. Diantara kita yang perempuan-perempuan manis manja ini, cuma dese kayaknya yang kadang suka ke disko. Sampai pacar gue dulu, anak kampus juga, saking enggak berhasilnya membuat gue nginjek disko, yang sering diajak bareng ya si Ms.Sa ini :). Sedangkan gue, mungkin gue adalah si paling bawel, paling sering ngeracunin yang lain buat cabut kuliah dan ke PIM, dan paling males belajar :). Gue inget banget, Ms.Sy pernah bilang, “Lo tuh, kalau cabut aja ada di barisan depan, tapi giliran masuk kelas ada di belakang. Udah di kampus dari jam 7.30 tapi kelas jam 8, lo masuk jam 8.30”. Bwahahahaha.

Dan namanya berteman ya, semakin banyak kepala tentunya semakin banyak kesempatan terjadi konflik. Apalagi, ya bisa dilihat di atas, karakter kita beda-beda banget. Ya mungkin bukan konflik berat sih, dan kayaknya juga jarang banget terjadi, tapi ada-lah sesekali waktu seseorang lagi bete dan males ngomong sama yang lain. Terus curhat deh sama teman yang lainnya. Ya kadang yang dicurhatin juga enggak membantu menyelesaikan masalah sih karena biasanya ya bingung juga gimana ngasih tahunya. Jadi biasanya masalahnya yah hilang aja dengan berjalannya waktu. Dan kita berteman lagi seperti enggak pernah ada apa-apa. Enak yah umur segitu, belum banyak tetek bengek kehidupan yang dipikirin, jadi berteman pun lebih tulus, dan murni karena kita care satu sama lain.

Sampai sekarang, kita ber-enam masih dekat. Tentu enggak sedekat dulu. Gue pun udah sangat jarang curhat sama Ms.P. But somehow we all know that we’re still best friends. We still do care for each other. Dan kalau gue lagi ke jakarta, kita juga selalu berusaha ketemuan.

However, gue merasa, baik diri gue maupun sahabat-sahabat gue ini, kita semua sedikit banyak berubah dengan berjalannya waktu dan bergantinya peran kita dari single menjadi istri atau ibu. Kadang gue merasa, pola pikir dan nilai-nilai yang melekat di satu individu, udah berubah enggak seperti dulu. Ada beberapa hal yang kadang membuat gue berpikir, she’s not a person i used to know years ago. Tapi yah, mungkin mereka pun berpikir hal yang sama tentang gue.

Beberapa tahun lalu, sempat ada perasaan kurang berkenan diantara pertemanan kita. Sedih iya, kecewa juga banget. Tapi setelah gue diam beberapa saat dan kesal gue pun mereda, gue pikir, kenapa harus dipersoalkan berlarut-larut sih. Berteman penting banget buat gue, tapi bukanlah hal yang paling penting sampai bikin hati gue susah. Saat ini, gue bukan cuma gue. Gue sudah melekat dengan suami. Begitu juga teman-teman gue yang udah punya keluarga sendiri-sendiri. Kita sekarang punya prioritas dan nilai hidup yang tentu berbeda.

Terus tahun lalu, karena sesuatu hal akhirnya topik ini kebuka lagi dan akhirnya gue bahas bareng Ms.P. Kata dia, “Gue enggak tahu rik kalau dulu itu kita menyinggung perasaan lo dan membuat lo merasa enggak dihargai. Maaf yah.” (versi aslinya tentu panjang banget hehehe). Surprisingly, masalah yang bertahun-tahun mengganjal pun akhirnya menguap begitu aja. Satu kata maaf dan kenyataan bahwa teman gue pun selama ini clueless tentang apa yang membuat gue dulu uring-uringan, tau-tau membuat kekesalan gue hilang begitu aja. Ya tetap enggak merubah kenyataan sekarang kita enggak selengket dulu, tapi setidaknya, perasaan enggak enak itu udah hilang. Enggak ada lagi tuh buruk sangka atau asumsi-asumsi negatif berkeliaran.

Yes, people do change, we’ve changed. Tapi apakah perubahan kita menjadi manusia dewasa harus membuat kita kehilangan teman baik? Well i believe, a good relationship deserves a second chance.

Panjang yah cerita. Masih lanjut nih … cuci muka dulu sana biar tetap konsen. 🙂

Teman Dunia Maya

Sekitar 5 tahun yang lalu, gue menjerumuskan diri ke salah satu komunitas perempuan-perempuan keren :). Caelaaa pakai no-mention deh gue, sebut aja kenapa namanya, rik! Hehehehe iya iya, komunitas FD (enggak gue sebut panjangnya ya, entar masuk search engine lagi). Awalnya gue ragu join, karena gue takut apakah gue bisa get along sama orang-orang yang hanya gue temui di dunia maya. Tapi alhamdulillah, joining FD was one of the best decisions i’ve made. Gue ketemu banyak sekali teman baru dan mendapatkan pengetahuan baru. Hebatnya, dengan latar belakang yang berbeda-beda, tapi kok yah kalau ketemu hampir selalu nyambung banget. Bisa gitu yah kita ketemuan pertama kali tapi langsung ngobrol panjang lembar berjam-jam. 🙂

Diantara puluhan teman FD gue, tentu enggak dengan semuanya gue berteman dekat. Makin lama, makin kesaring kan sama yang mana kita cocok dan bisa terbuka. Gue rasa itu proses yang alami ya karena gue enggak pernah milih-milih dalam berteman. Pada akhirnya mungkin yang bisa dibilang teman baik banget, enggak nyampe sebelah tangan banyaknya. Selebihnya ada teman baik, teman ngobrol, dan teman sekedar kenal. Gue senang berteman dan berinteraksi dengan banyak orang. Berteman itu membuat gue lebih berwawasan lingkungan dan lebih rajin intropeksi diri. Namun, seperti yang gue bilang somewhere above, teman itu penting tapi bukan yang paling penting. Gue enggak akan menuntut banyak di dalam pertemanan, karena belajar dari persahabatan dengan gank kuliah gue, semakin kita nuntut “elo kan sahabat gue, teman baik gue, harus baik dan ngertiin gue dong”, maka semakin susah pertemanan itu bisa survived. Believe me.

Proses pertemanan gue dengan salah satu teman terbaik gue di FD berjalan natural dengan seiringnya waktu. Dari suka ketemu, suka ngobrol. Lama-lama berasa kalau orang ini sedikit banyak punya persamaan nilai dengan gue. Terus tanpa disadari, kita mulai sering cerita tentang hal yang lebih personal. Tentang rumah tangga kita, keluarga, keuangan, bahkan prinsip hidup dan agama. Serius tingkat tinggi pokoknya deh bahan perbincangan kita kadang-kadang :). Benar-benar pertemanan yang tidak pernah direncanakan. Semuanya berjalan apa adanya.

Gue juga punya beberapa teman baik lainnya. Salah satunya bahkan termasuk manusia ter-nyentrik yang pernah gue kenal. Ajaib dan berbeda 180 derajat dengan gue. Tapi yah kita bisa tuh berteman baik. Di luar kenyentrikannya, i know she’s a great woman. Dia salah satu wanita super yang sangat gue kagumi. And she’s truly a great friend. Dengan dia, mungkin gue enggak bisa cerita dan berbagi tentang banyak hal. Tapi itu yang menyenangkan dari punya banyak teman. Setiap teman ada perannya masing-masing buat gue. Whatever it is, they’re equally worth keeping and worth fighting for.

Buat teman-teman yang kategorinya teman ngobrol dan teman sekedar kenal, gue malah nyantai banget dalam berteman dengan mereka. Ibaratnya, kita berteman dan bisa nyambung kalau ngobrol. Bisa hang out bareng. Tapi gue enggak peduli semisalnya lo mau berteman for benefit kek, mau ngomongin gue di belakang gue kek, atau berteman dengan gue karena terpaksa dan tuntutan lingkungan. Hidup gue udah penuh dengan segambreng urusan dan males banget nambah-nambahin pikiran. Bahkan untuk menebak-nebak “siapa ya yang enggak tulus berteman sama gue?” aja, gue males banget. The more you try to know, the more you get stressed.

Ada beberapa teman yang sejujurnya cuma enak buat diajak haha-hihi. Berteman yang enggak pakai hati. Karena jujur deh, siapa sih yang bisa punya sekompi “teman baik”? Gue sih jelas enggak bisa karena jujur bakal sulit buat gue untuk membagi perasaan. Enggak perlu juga gue menjadi teman terpenting untuk semua orang, iya enggak sih? Bahkan, orang yang gue enggak suka pribadinya pun tetap gue temenin. Enggak suka bukan lantas jadi memusuhi, kan? Buat gue, sayang kalau waktu yang kita punya digunakan untuk nambah-nambahin daftar musuh ( … tunggu, gue jadi mikir nih apakah gue punya daftar musuh ahhahaha). Berteman enggak selalu harus menjadi super nice and ridiculously kind kok. Cukup senyum, ketawa kalau lucu, jawab kalau ditanya, membalas kebaikannya dengan kebaikan yang setimpal, dan tabok balik kalau ditabok. Simpel.

Yang pasti, kita enggak bisa menebak apa yang menunggu kita di masa depan. Gue cuma enggak mau kejadian, orang yang ada di daftar musuh gue (ya kali kalau ada sih), justru akan menjadi penyelamat gue besok-besok. Dan mungkin aja, ada orang yang saat ini bukan teman baik gue, tapi beberapa tahun lagi bisa jadi sahabat gue. Terkadang, kita butuh waktu cukup lama untuk bisa melihat something good in a person. Permasalahannya cuma mau atau tidak kita ngasih kesempatan kepada waktu :).

Udah ah, aku capek ngetiknya. Well i need to whatsapp Ms.P. This post makes me miss her so much.

Cheers! ( and don’t forget, Make Friends!)

Be Sociable, Share!

2 Responses to “Friends”

  1. nopai says:

    Ada gue gak? Ada gue gak? Napa gak ada inisial gue? Nappppaaaa? Gue bukan temen lo? *lebay*

    Tulisan yang bagus Rik!
    Lagi kecil gue berpikir kalo gak sehati dan sepikir, ya gak bisa jadi temen! Gak cocok. Tapi seiring bertambah dewasanya gue, justru perbedaan karakter itu menarik lho. Bisa jadi bahan becandaan juga.
    Dan nyari temen jujur yang mau ngomong hal jelek, hal salah ttg gue itu susah lho.. Tentunya temen yang baik, tau cara ngomong yang baik pula ke gue 🙂

    • ambung ambung says:

      ahahahaha … kalo lo berasa either pernah ngobrolin masalah keuangan dan agama sama gue, atau lo nyentrik berat (kayaknya gak mungkin ya?), ya lo ada di no mention di atas :))

      teman baik itu tdk perlu diproklamirkan ke se-antero jagat raya. asal kitanya tau sama tau aja. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *